
Sudah berapa lama kaki kita semua menginjakkan tanah ditempat
yang penuh dengan ilmu dan hikmah ?? sudah berapa lama kita berhijrah yang
notabennya setiap kita telah mempunyai visi masing-masing ?? sudahkah visi itu
menjadi hal yang serupa dari setiap insan yang sama ?? sudah berapa lamakah
kita memendam ilmu yang telah diserap oleh pandangan mata telanjang kita yang
ditransmisikan oleh otak dan diiringi oleh hati nurani yang ikhlas didalamnya.
Imam syafi’I
pernah berkata dengan sindiran halusnya
“Ilmu
apabila selalu ditimbun dan ditumpuk-tumpuk yang seperti genenangan air
didalamnya, maka yang muncul dan tumbuh adalah suatu kebusukan-kebusukan kalau
itu tidak dialirkan untuk beramal dan pengajaran-pengajaran”
Berilah suatu pengajaran-pengajaran yang berarti wahai para
pencari ilmu, karena ilmu itu akan berguna jikalu diamalkan dan diajarkan,
ajarkan padaku ilmu yang bermanfaaat wahai para pencari ilmu dari apa yang
kalian serap dengan penuh keikhlasan ditmpat kalian yang penuh dengan ilmu
didalmnya bagaikan lumbung padi yang didapati dengan tumpukan-tumpukan padi
didalamnya pasca panen ketika itu. Nasihatilah kami dalam kebenaran nan
kesabaran, bantulah kami untuk meraih jalanNya yang lurus, karena suatu saat
pengajaran mu akan menarik mu sendiri ke pintu gerbang kebahagiaan yang tidak
dapat dibayangkan difikiran setiap insan.
“sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR . Bukhari)
Kelak engkau akan menemukan seseorang yang Nampak wajahnya bersinar rupawan, diiringi senyuman lebar
tergambar dari sisi lekukan matanya dan Nampak jua giginya yang disetiap sela
nya memancarkan cahaya-cahaya kecil kemilau, serta mensyahdukkan akan
keindahan-keindahan symphony yang terlantun elok nan menawan dalam suaranya,
seraya berkata “Marhabban yaa ayyuhal insan, selamat datang, silahkan
dinikmati”. Kelak engkau akan menemukan kebahagian itu melihat tampangnya di
telaga Al-kautsar tempat seluruh umat manusia menemukan kebahagian dengan salah
satu eksistensinya dari wajahnya yang bersinar dikarenakan air wudhunya yang
membasahi wajah setiap insan. Tampak laki-laki tersebut senantiasa bahagia
apabila ada seseorang yang mendekati telaga tersebut dan disambutnya dengan
penuh keelokan dan kesenangan hati, akan
tetapi tak halnya dahinya mengerut seraya syahdu dalam hatinya apabila Nampak
insan yang diusir untuk mendekati telaga tersebut.
Wahai para pemburu ilmu, tidak halnya kita memikirkan akan
eksistensi kita menjadi seorang pencari ilmu yang agung. Tak halnya seseorang
dari engkau merupakan salah satu yang diagungkan oleh Allah SWT, Rabb kita yang
Maha Luas yang esensi tidak dapat dilogikan semata akal dan fikiran setiap insan di dunia ini.
Tak ragu juga pada ciptaanNya yang senantiasa menyembahNya tanpa diciptakan
oleh cipratan api yang sifatnya cenderung pada kehancuran dengan dikuatkan pada
dasar penciptaan oleh cahaya yang lembut, malaikat pun tak ragu untuk
membentangkan sayap-sayapnya kepada para pencari ilmu yang senantiasa menuntut ilmu dengan penuh
keikhlasan pada Rabb nya semata. Malaikat pun senantiasa berlomba-lomba untuk
mengepakkan sayapnya kepada para pemburu ilmu. Salah satunya ada yang berhasil
menaunginya hingga pada penghujung dia duduk sampai ilmu itu selesai diserap
oleh insan pada waktu itu , ada yang dapat menaunginya hingga seraya duduk
sesaat, ada pula yang dengan malunya malaikat tersebut melapor kepada Rabb nya
bahwasanya dia hanya dapat menungi seorang insan yang duduk terlambat dan
kemudian insan tersebut beranjak ketika itu dikarenakan suatu udzur yang
disandingkannya, dan ada juga malaikat paling terakhir dalam momen tersebut dan
sungguh dia lebih malu menunduk untuk laporan penting terhadap Rabbnya seraya
berkata “ wahai Rabb ku, aku tidak mendapati seorang insan yang sedang mencari
ilmu mu yang mulia kecuali dia hanya sekedar lewat saja pada majelis tersebut
yang mana insan tersebut cukup ku naungkan dengan sayap ku ini dalam sesaat”
Kita dapat mengerti akan kemuliaan seorang pemburu ilmu yang
berlajar dan mengajarkannya. Tak dapat dipungkiri seorang murabbi yang
senantiasa memberikan pengajaran-pengajaran kecil kepada para muttarabbi nya
bahwasanya seorang pengajar merupakan suatu kewajiban juga dalam benaknya untuk
selalu mengikuti arus global zaman sekarang dengansenantiasa menimba ilmu juga
pada lingkungan-lingkungan nya sekitar, sungguh bumi ini luas, ilmu didalamnya
sangat tak terkira berlimpah ruah, tidak dapat setiap insan hitung, dan sudah
selayaknya setiap insan mencari ilmu selalu hingga ajal menemuinya yang mana
saat itu merupakan hal-hal yang tidak ada lagi keraguan-keraguan
didalamnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar